Jangan Pilih Pemimpin Bermodal Tampang Tok!



“Generasi muda bangsa ini hendaknya memiliki kemandirian baik dalam bersikap, bertindak serta berpikir. Sebab kalau anak muda tidak mampu melakukan kemandirian jangan berharap ada perubahan pada bangsa ini.”


Sebagai generasi muda merasa prihatin melihat kondisi bangsa akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, rusaknya tatanan diberbagai sendi kehidupan seperti korupsi di segala bidang, kerukunan antar agama dan suku sudah tercabik, bencana alam yang terus saja melanda bangsa. Sementara rasa nasionalisme para pimpinan negara yang semakin memprihatinkan. Membuat harapan sebagian masyarakat semakin pudar. Namun demikian, sebagai orang yang mempunyai keyakinan harusnya tetap berdoa dan berharap kepada Tuhan.

Demikian seulas kalimat yang keluar dari sosok muda, Drs Nikson Nababan ketika ditemui di sebuah restoran di bilangan Sahardjo Jakarta Selatan. Nikson Nababan yang saat ini aktif dalam organisasi kepemudaan dengan menjabat Sekretaris DPD Taruna Merah Putih DKI ini, juga pernah dipercaya salah satu partai politik peserta pemilu 2009 yang lalu dengan jabatan sebagai ketua DPD DKI jaya. Dan dalam pemilu yang lalu Nikson turut meramaikan pentas pemilu dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD DKI. Sayangnya perjuangan Nikson masih belum berhasil. Tentang kegagalannya menjadi anggota DPRD banyak ditenggarai karena salah memilih partai sebagai kendaraannya. Maka belajar dari pengalaman tersebut Nikson mulai bergabung dengan gerakan kepemudaan untuk semakin mengasah ketajaman insting sosial dan politiknya melalui TMP yang berpusat di Tirtayasa, Jakarta Selatan.

Lalu bagaimana Nikson menyikapi kondisi bangsa saat ini, tentu saja sebagai sosok muda melihatnya, bahwa apa yang dikatakan pemerintah tentang keberhasilan ekonomi yang berhasil menekan inflasi itu memang benar, tetapi itu kan pencapaian secara makro lalu bagaimana dengan ekonomi  mikronya. Padahal bicara ekonomi sebetulnya lebih pada ekonomi mikro karena menyangkut kepentingan masyarakat bawah (grassroot). “Ekonomi mikro inilah yang sebetulnya menjadi prioritas pemerintah, sesuai janji, pak SBY selama menjabat periode pertama dan kedua ini. Namun kenyataannya sampai saat ini belum ada kemajuan yang berarti bagi kehidupan masyarakat kita.” Tutur pengusaha ini lantang.

Dibutuhkan Perubahan

Kondisi bangsa yang semakin merosot baik secara moral dan peningkatan taraf hidup. Nikson memandang bahwa diperlukan perubahan secara revolusioner khususnya ditingkat elit itu semua. Kalau perlu mereka pejabat tinggi itu diganti semua dan seterusnya dikelola orang-orang baru yang memiliki integritas. “Bukan itu saja, dengan mempertimbangkan kerusakan parah bangsa ini, harus dibuat perubahan secara radikal. Kalau mungkin Negara ini dikelola saja oleh konsultan.” Tukas Nikson serius. Apa yang dikemukakan bukan asal bicara tetapi berdasarkan bukti selama 65 tahun merdeka kondisi bangsa bukannya tambah baik justru mengalami kemerosotan. Padahal siapa yang tidak tahu negara yang gemah ripah loh jinawi (subur makmur) namun kenyataannya tetap sebagai negara yang melarat. Dimana para pengelolanya orang-orang yang mengatasnamakan sebagai bangsa sendiri sekalipun, urainya panjang lebar. Betapa tragisnya bangsa yang besar kenyataanya menjual anak bangsa menjadi babu di negeri orang. Anehnya mereka yang menjadi TKI itu oleh pemerintah disebut pahlawan devisa, tetapi mengalami penganiayaan bahkan pembunuhan, bukankah ini sangat ironis dengan bangsa ini, imbuhnya tegas.

Melihat realitas kehidupan berbangsa dan bernegara ini, Nikson mengajak kepada generasi muda untuk bersama berpikir tentang kondisi bangsa ini. Supaya berani bertindak dan bersuara. Karena sekalipun saat ini sudah terpilih ketua KPK maupun Jaksa Agung baru tidak menjadikan jaminan. Kenapa, masalah bangsa saat ini bukannya hanya personal siapa pegang apa, tetapi sistemnya yang sudah bobrok. Bayangkan saja KPK katanya independent tetapi kenyataanya masih melakukan tebang pilih, orang yang hanya mendapat ucapan terima kasih saja dijadikan pesakitan. Sementara ada orang dari partai penguasa yang terindkasi korupsi masih bebas melenggang dan tak dikenai apa-apa, tukas Nikson bertanya. Sementara pemilihan ketua KPK yang menelan biaya miliyaran cuma menjabat selama satu tahun saja. Tentu saja cara seperti ini bisa di bilang hanya sekedar cari proyek untuk bagi-bagi jatah lagi di tahun depan. Sekali lagi Nikson mengajak generasi muda bangsa untuk memiliki kemandirian jangan berharap ada perubahan di bangsa ini.

Kristen Termarjinalkan

Nikson sosok muda yang nasionalis merasa bahwa kondisi bangsa ini sudah pada titik nadir yang memprihatinkan. Bagaimana dasar Negara UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika ternyata sudah tidak ada artinya lagi. Peristiwa penusukan dan penganiayaan HKBP Ciketing, berlakunya perda-perda syariat serta diberlakukannya hukum Islam di Aceh. Pertanda ada pelanggaran terhadap dasar negara kita. Kalau kondisi ini semakin tidak terkendalikan dan pemerintah tidak bertindak, bisa saja NKRI ini terancam. Nikson mengutip pernyataan Gus Dur, kalau sebuah negara sudah masuk dan berurusan dengan negara sudah masuk dan berurusan dengan agama tamatlah sebuah negara. Bayangkan saja bagaimana membangun Gereja dengan syarat IMB persetujuan 70 orang disekitar dan sebagainya. Sedangkan pembangunan rumah ibadah agama besar yang ada di Indonesia, apakah mereka mengurus IMB dan sebagainya. Kalaupun ada jujur pasti tidak semua mereka memiliki IMB.

Sementara pembangunan rumah ibadah mereka tidak ada masalah ketika dibangun di Papua, Dayak dan Sumatera Utara. Namun demikian memang tidak sepantasnya orang Kristen membalas perbuatan mereka. Karena hakekat bagi umat Kristen adalah bagi pembunuh, perampok dan pemerkosa ada pintu maaf di depan Allah. Tetapi buat orang munafik tidak ada pintu maaf bagi mereka. Dan apa yang terjadi di bangsa ini kenyataannya banyak orang-orang munafik yang memakai agama biar kelihatan alim dan beragama. Di Eropa, Korea dan China kalau orang tidak suka akan bilang terus terang akan ketidaksukaannya itu, tidak munafik dan basa-basi.

Untuk mengurai persoalan bangsa yang akut ini kita butuh pemimpin yang rela meninggalkan kepentingan diri sendiri demi kepentingan masyarakat banyak. Bicara masih adakah sosok semacam itu, tentu saja sebagai orang beriman selalu berdoa dan beriman supaya datang pemimpin yang berhati melayani. Jadi harapan itu selalu ada tentu dengan belajar pengalaman masa lalu dalam memilih seorang pemimpin, jangan hanya gagah ganteng. Dan memilih pemimpin hanya dengan pertimbangan merasa terzolimi, jadi cukuplah bagi bangsa ini untuk memilih pemimpin yang baik. Karena sudah berapa kali ganti presiden kenyataannya masih sama saja. Sekali lagi Nikson mengajak sebagai orang beriman tetap saja harus memiliki keyakinan untuk mengubah bangsa ini, pungkas Nikson mengakhiri perbincangan malam itu.


Sumber: GAHARU Edisi ke-81 Januari Tahun Ke 10 - 2011